Pagi ini aku ngopi sambil menyusun catatan kecil: lensa mana yang lagi nongkrong di kameraku, tips sederhana buat foto santai, dan beberapa gear yang menurutku worth it. Ini bukan review teknis yang bikin kepala puyeng, lebih ke curhatan fotografer yang lagi senang bereksperimen. Kalau kamu suka baca diary foto yang santai dan kadang nyeleneh, ayo melipir.
Lensa yang bikin aku betah (alias lensa favoritku)
Aku lagi cinta sama lensa prime 35mm. Kenapa? Karena fleksibel buat street, portrait, dan kadang landscape lebar. Bukaannya biasanya gede, jadi bokeh cakep dan nyaman buat low light. Dulu sempet tergoda dengan zoom segede gunung, tapi balik-balik 35mm yang selalu nyantol di bodi kameraku.
Satu lagi: 50mm. Simpel, ringan, dan hasilnya konsisten. Buat pemula atau yang pengen ngehemat space di tas, 50mm seringkali jawabannya. Kalau mau dramatis, coba main dengan aperture lebar; kalau mau santai, set di f/2.8–f/5.6, ambil napas, dan jepret.
Tips foto santai ala gue — gak perlu ribet
Tip pertama: jangan takut salah. Banyak foto terbaikku justru yang diambil spontan tanpa setting sempurna. Biarpun ada mode manual, aku kadang pakai aperture priority dan fokus ke momen, bukan angka di layar.
Tip kedua: gunakan cahaya yang ada. Golden hour enak, iya, tapi bukan satu-satunya momen keren. Pagi berkabut, siang mendung, atau lampu jalanan malam hari bisa kasih mood berbeda. Pelajari satu sumber cahaya di sekitarmu dan gerakkan subjek sedikit demi efek dramatis.
Tip ketiga: komposisi sederhana. Rule of thirds itu klasik, tapi kadang sentral framing atau leading lines lebih kuat. Latihan dengan satu subjek dan satu background, mainkan jarak dan sudut sampai cerita fotomu jelas—meski cuma foto kopi di meja.
Gear? Gak perlu ngutang, bro
Percaya deh, gear mahal bukan jaminan hasil bagus. Kamera entry-level atau mirrorless kecil sudah cukup untuk banyak jenis proyek. Investasi paling mantap sebetulnya lensa dan tripod yang stabil (kalau kamu suka long exposure). Aku juga selalu bawa cleaning kit kecil; debu di sensor itu musuh hati.
Kalau mau rekomendasi praktis: satu body yang nyaman digenggam, satu prime favorit (35mm atau 50mm), dan satu lensa tele kecil buat jaga-jaga. Tambahin strap yang enak biar nggak pegal, dan powerbank buat charger di lapangan. Simpel, nggak bikin dompet nangis.
Inspirasi visual: cari yang ngena di hati
Inspirasi datang dari mana aja. Kadang dari film, kadang dari feed Instagram, atau sekadar koridor rumah tetangga yang pencahayaannya lucu. Aku sering ngutip mood film (misal: tone warm ala film klasik) dan coba terjemahkan ke warna fotoku. Mainin preset atau lut sedikit aja, jangan lebay.
Satu hal yang sering kulakukan: bikin moodboard di ponsel. Tumpuk gambar yang aku suka—warna, komposisi, vibe—dan pakai itu sebagai rujukan setiap kali keluar motret. Terus, jangan lupa sering-sering stalking portofolio fotografer lokal buat nambah ide dan suportif juga, kan? Kalau mau lihat inspirasi dan beberapa gear picks yang sering kubaca, cek juga gpphotos.
Penutupnya: jepret, nikmati, ulangi
Intinya, fotografi buatku soal menangkap momen yang bikin kita bilang “ini keren” atau “eh lucu juga”. Nggak usah kepedean soal gear, tapi jangan juga takut upgrade kalau memang pengen berkembang. Latihan terus, simpan file-file yang bikin bangga, dan buang yang bikin minder—biar isi hardisk penuh kenangan, bukan penyesalan.
Kalau kamu lagi bingung mulai dari mana, mulai dengan jalan-jalan kecil di sekitar rumah dan coba dokumentasikan aktivitas sehari-hari. Boleh juga kirim DM atau komentar kalau mau ngobrol gear atau minta saran. Siapa tau kita bisa janjian hunting bareng, ketemu, lalu minum kopi—saling tukar tips, foto, dan cerita konyol di balik lensa.